Lampung, Selasa (21/07/2026) – Upaya membangun ekosistem pendidikan yang humanis dan ramah anak terus dilakukan melalui penguatan nilai kasih sayang dalam praktik pembelajaran. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) UIN Jurai Siwo Lampung mengimplementasikan program Model Pendampingan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta pada Lembaga PAUD/RA dan MI dalam Membangun Ekosistem Pembelajaran Humanis dan Ramah Anak di sejumlah wilayah di Provinsi Lampung.

Kegiatan pendampingan dilaksanakan pada 18–21 Juli 2026, setelah sebelumnya tim melakukan survei analisis kebutuhan dan Focus Group Discussion (FGD) pada 5–6 Juli 2026. Rangkaian kegiatan tersebut menjangkau lembaga pendidikan di PAUD-Qur’an Kota Metro, RA/MI Way Bungur Kabupaten Lampung Timur, RA/MI Candipuro Kabupaten Lampung Selatan, serta PAUD Bumi Restu Kabupaten Lampung Utara.

Lebih dari 100 guru PAUD/RA dan MI mengikuti kegiatan ini. Penentuan wilayah dan lembaga sasaran didasarkan pada analisis kebutuhan agar pendampingan dapat menjawab tantangan nyata yang dihadapi pendidik dalam menerapkan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di lingkungan satuan pendidikan.

Ketua tim PKM UIN Jurai Siwo Lampung, Dr. Kisno, M.Pd., menjelaskan bahwa pendampingan ini berangkat dari gagasan untuk menghubungkan nilai kasih sayang dengan praktik pembelajaran yang n

yata.
“Model pendampingan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta ini merupakan pendekatan Compassionate Learning, yaitu membawa nilai kasih sayang ke dalam praktik pembelajaran untuk membangun ekosistem pembelajaran yang humanis dan ramah anak,” ujar Dr. Kisno.

Menurut gagasan yang dikembangkan dalam kegiatan ini, kasih sayang dalam pendidikan tidak cukup dipahami sebagai konsep atau slogan. Nilai tersebut perlu hadir dalam cara guru berkomunikasi, mendampingi, menghargai perbedaan, merespons kebutuhan peserta didik, dan menciptakan suasana belajar yang aman serta mendukung perkembangan anak.

Pendekatan Compassionate Learning dalam program ini dipadukan dengan metode Service Learning, yakni pendekatan yang menghubungkan pembelajaran dan pengembangan pengetahuan dengan pengabdian untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, proses pendampingan diarahkan agar guru tidak hanya memahami konsep Kurikulum Berbasis Cinta, tetapi juga merefleksikan dan mengembangkan penerapannya sesuai dengan kondisi lembaga masing-masing.

Rangkaian kegiatan meliputi identifikasi kebutuhan, diskusi dan pendampingan guru, praktik pembelajaran, penyusunan perangkat ajar, refleksi dan evaluasi, serta penyusunan draf panduan atau prosedur pelaksanaan. Tahapan ini dirancang untuk membantu guru menerjemahkan nilai cinta, kepedulian, empati, dan penghargaan terhadap anak ke dalam perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran.

Tim pelaksana diketuai oleh Dr. Kisno, M.Pd., dengan anggota Dr. Zusy Aryanti, M.A., dan Aneka, M.Pd., dari UIN Jurai Siwo Lampung, serta Dr. Nia Fatmawati, M.Pd., sebagai tenaga profesional dari Universitas Lampung. Kegiatan ini juga didukung oleh lima mahasiswa pembantu PKM UIN Jurai Siwo Lampung, yaitu Luluk Widi Astuti, Naila Husnia, Syahidah Nadawatul Hayat, Asti Sugiarti, dan Nassya Lianty Putri.

Dalam pelaksanaannya, pendampingan menjadi ruang bagi para guru untuk mendiskusikan tantangan pembelajaran sekaligus mengembangkan pemahaman tentang penerapan nilai kasih sayang secara kontekstual. Salah satu aspek yang memerlukan penguatan lebih lanjut adalah penyusunan perangkat ajar agar nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta dapat direncanakan dan diterapkan secara lebih sistematis.

Kegiatan ini juga menegaskan pentingnya keberlanjutan pendampingan. Penerapan kurikulum tidak cukup dilakukan melalui sosialisasi satu kali, tetapi membutuhkan proses pembiasaan, refleksi, dukungan pimpinan lembaga, dan pengembangan kapasitas guru secara bertahap. Draf panduan yang disusun melalui kegiatan ini menjadi salah satu bahan awal untuk mendukung tindak lanjut tersebut.

Melalui model pendampingan ini, tim PKM UIN Jurai Siwo Lampung berupaya memperkuat hubungan antara nilai-nilai kemanusiaan dan praktik pendidikan sehari-hari. Harapannya, Kurikulum Berbasis Cinta dapat menjadi bagian dari budaya pembelajaran yang menghargai martabat anak, menumbuhkan kepedulian, dan mendukung perkembangan peserta didik secara utuh.

Dari nilai kasih sayang menuju praktik pembelajaran, program ini mengajak pendidik untuk memaknai cinta bukan sekadar sebagai gagasan, melainkan sebagai sikap dan tindakan nyata dalam mendampingi setiap anak belajar, bertumbuh, dan berkembang.


Melalui pendekatan Service Learning (SL), Tim pengabdian berupaya membangun fondasi pendampingan yang dapat membantu lembaga pendidikan mengembangkan praktik pembelajaran berbasis cinta secara kontekstual dan berkelanjutan. Pendampingan juga menjadi ruang untuk mengidentifikasi tantangan guru, khususnya dalam menerjemahkan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta ke dalam perencanaan dan perangkat pembelajaran.
Ke depan, keberlanjutan program perlu didukung melalui pendampingan lanjutan, penguatan kolaborasi antara guru dan pimpinan lembaga, serta penyempurnaan panduan pelaksanaan Kurikulum Berbasis Cinta. Dengan demikian, nilai cinta dan kasih sayang tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi menjadi bagian dari budaya pembelajaran sehari-hari.

Program Pengabdian kepada Masyarakat ini diharapkan dapat menjadi salah satu kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat kualitas pendidikan yang berorientasi pada perkembangan anak secara utuh. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan, Kurikulum Berbasis Cinta diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai landasan untuk membangun ekosistem pembelajaran yang humanis, bermakna, dan ramah anak. (K)